Reading is Sexy

This is slide 1 description - Designcart.org

Keep Calm and Read a Book

This is slide 2 description - Designcart.org

Reading is Habbit, Not Just Hobby

This is slide 3 description - Designcart.org

Reading is Leading, Write in Quite

This is slide 4 description - Designcart.org

Sabtu, 20 April 2019

Nama Buku: Kiai Kantong Bolong (Refleksi Kisah-Kisah Kepemimpinan Bangsa)
Penulis: Rijal Mumazziq Zionis
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2017
Genre: Nonfiksi, Biografi
Jumlah Halaman: 308
Pereview: Uswah
Review bulan Maret 2018
Apa yang anda fikirkan ketika status-status di facebook jadi buku? Pasti penasaran status macam apa yang bisa sampe jadi buku tebalnya 308 halaman? 😮 Saya menyebutnya "Bukan Status Biasa" 😁
Buku yang saya dapatkan langsung dari penulisnya ini merupakan kumpulan status facebook penulis, kalau lihat jumlah halaman dan ketebalan buku pasti mikir kan ini kumpulan status facebook selama berapa tahun? Saya juga kurang tahu status sejak tahun berapa penulis -berkat dorongan beberapa pihak- akhirnya mengabadikan postingannya dalam sebuah karya buku, tapi buku ini tidak seluruhnya tertulis  letterleg seperti status di facebook, boleh dibilang semacam syarah dari status-status facebook yang disertai dengan referensi ilmiah dalam setiap pembahasannya. 😀
Saya berteman dengan Gus Rijal Mumazziq Zionis tidak hanya di sosmed, beliau kakak angkatan saya di UINSA (dulu IAIN Sunan Ampel) dan saya aktif mengikuti status-statusnya yang sangat mencerahkan, tidak plagiat juga lain dari yang lain 😄 kebanyakan isinya banyolan-banyolan menanggapi peristiwa kekinian, baik itu isu politik, agama ataupun sosial. Gaya penulisannya memang disetting ngakakable, bikin pembacanya ngakak online 😂, sebagaimana yang dituliskan di bukunya hal. 295 tentang cara cerdas melawan permusuhan adalah dengan 3 cara, pertama membalas dengan telak, kedua membalas dengan cinta kasih dan yang ketiga membalas dengan kocak. Demi apa serius baca status panjang bin lebar tentang politik pada akhir tulisannya ditambahi caption “siapakah nama ayah Jarjit?", atau "turunkan harga kinderjoy!" 😆 Tak kenal maka tak sayang, temen-temen bisa jadi follower (kuota konfirm teman sudah full) Gus Rijal di akun facebooknya Rijal Mumazziq Z untuk mencerahkan timeline klean yang mulai tidak sehat paska pilpres dan pilkada. (Wait.. Ini review buku apa review akun fb yak 😝). Ya sudah, anggap saja itu tadi muqoddimah dan penjelasan tentang sebab-sebab launchingnya buku.
Judul "Kiai Kantong Bolong" terinspirasi dari Cak Nun dengan falsafahnya ketika menceritakan sosok Petruk, Kantong Bolong bermakna kekosongan jiwa, tidak dipenuhi dengan syahwat, karena yang terisi akan dibiaskan kembali, kantong bolong juga bermakna saku yang berlubang, setiap pemberian akan diberikan, sehingga tidak akan ada keduniawian yang nyangkut di hati. (hal. 163)
Mengutip dawuh KH. Muwafiq, kita ini tidak usah jauh-jauh meniru akhlak Kanjeng Nabi, karena Kanjeng Nabi itu akhlaknya paripurna, kita ini cuma kecipratan sedikit akhlaknya poro sesepuh dan alim ulama yang merupakan pewaris akhlak Nabi. Pesan Yai Muwafiq ini saya amini saat membaca buku ini, saya dibikin mewek di kesan pertama membaca manusia-manusia langit (hal. 1), lha piye ndak mewek? Manusia-manusia langit adalah kisah mereka yang memiliki kedalaman mata batin dalam menilai sesuatu, mana barang-barang yang dihasilkan dari pekerjaan yang haram, mana barang-barang yang mengandung syubhat dan mana barang-barang yang bukan hak milik, saya menyebutnya mukasyafah, kisah-kisah unik disini bikin merinding, tentang bensin bau amis, tangan mendadak stroke karena memegang cangkir wedang yang rukun jual belinya belum sempurna, dsb. Hal macam ini bagi saya khususnya mungkin hal yang sepele, tapi para sesepuh dan alim ulama atau bahkan orang tua kita sangat berhati-hati sekali, karena tubuh yang menerima barang halal akan memudahkan seseorang dalam berwusul ilallah dan beramal. Sesuai dengan filosofi Kantong Bolong.
Setelah rampung membaca manusia-manusia langit, saya lalu dikenalkan dengan KH Achmad Zaini Syafawi yang disebut-sebut "Lelaki yang tidak punya duri di hatinya", juga penjabaran Cak Nun tentang "manusia yang selesai dengan dirinya sendiri", dan banyak lagi kisah-kisah keteladanan yang dikupas dengan begitu dramatis, tidak hanya membahas tentang keteladanan Ulama Nusantara dan Pemimpin-Pemimpin Bangsa seperti Presiden Soekarno, Presiden Gus Dur, Presiden Jokowi, Ignasius Jonan, Bung Hatta, Bu Risma dalam The Power of Emak yang jadi pembahasan favorit saya juga dituang di buku ini, Muhammad Ali, Nelson Mandela, tokoh-tokoh luar negri yang menginspirasi juga diulas dengan begitu apik. Film-film Hollywood dan Bollywood tidak luput dibidik disini.
Di sisi lain, ada sosok-sosok khumul, yang memilih berjuang di balik layar, bukan singa-singa podium yang mengujar dan mengajar kebaikan di atas panggung, mereka adalah perawat jenazah-jenazah yang tidak terawat, yang diasingkan orang lain, yang tak bertuan, sang penggerak tersebut adalah Mas Chabib Wibowo, dengan kebajikan yang sama, di Pakistan ada Maulana Abdussattar Edhi, ada pula pesantren Milinium Roudlotul Jannah asuhan Gus Mad yang merawat ratusan bayi terlantar atau bayi dibuang dan anak yatim, atau Ponpes Metal Kyai Abu Bakar Cholil yang merawat anak terlantar, pecandu narkoba, orang gila. Di tengah gemerlap dunia prostitusi, ada sosok yang dengan sabar selama puluhan taun menjadi murabbirruh bagi para PSK. Dialah Kyai Khoiron Syuaib, yang berdakwah dengan ramah, bukan dengan marah. 
Membaca buku ini serasa membaca rentetan tawassul, sebab setelah membaca kisah yang inspiratif dari sosok-sosok manusia inspiratif hati senantiasa tergerak mengirimkan fatihah. Di samping itu, saya bersyukur karena mengetahui masih banyak Kiai-kiai kantong bolong juga manusia-manusia langit di dunia ini.
Mojokerto, 01 April 2018
Judul Buku: Gadis Pantai
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara, Jakarta
Tahun Terbit: 2011
Genre: Historical - Fiction
Jumlah Halaman: 270
Pereview: Uswah

*review mengandung spoiler semua 😀 ditulis untuk memperingati Hari Kartini.
Sejarah ketemu sama buku ini, waktu itu hamil anak pertama, niatnya jalan-jalan ke Benteng Pancasila, Mojokerto. Lalu ngelirik ada yang jualan buku, jarang-jarang loh di Mojokerto kota ada orang jualan buku 😛 (karna Mojokerto lebih banyak peminat kopi maka dari itu warkop e umbyuk'an 😆) dan langsung klik sama buku si empunya Bumi Manusia ini. 
Eyang Pram ini begitu lihai menguraikan kisah tentang perempuan, karena beliau sendiri memang pengagum dan menghormati sosok perempuan, sebagian besar karya Pram menceritakan tentang perempuan, salah satunya novel berjudul Gadis Pantai ini yang ternyata true story dari neneknya Pram pemirsahh. Kisahnya epic banget sumpah. 😣 Btw, novel ini sebenernya trilogi, tapi 2 lainnya dibakar naskahnya karna dilarang terbit saat pemerintahannya Pak Harto. Jadi ga tau lanjutan kisah Gadis Pantai ini bagaimana, unfinished story 😭😭😭
Tokoh yang menonjol dalam novel ini ada 3, Gadis Pantai (tidak disebutkan siapa namanya dari awal sampai akhir) yang dipanggil Mas Nganten (gelar kebangsawanan jawa, istri dari priayi), Simbok (Pelayan Gadis Pantai) dan Bendoro (Suami Gadis Pantai yang merupakan Bangsawan Jawa).
Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung di jantungnya yang paling dalam, kata Pram. 
Gadis Pantai yang lugu, kesehariannya menjemur ikan di laut dan membuat terasi harus dikirim ke kota untuk menjadi istri Bendoro, Bendoro yang ganteng berperawakan tinggi proporsional itu terpikat dengan wajah manis Gadis Pantai, sangat mudah sekali bagi seorang Bendoro melamar Gadis Pantai, orang tua Gadis Pantai mendapatkan kehormatan dan kekayaan, sedangkan Bendoro mendapatkan istri dengan wajah yang manis dan tubuh mungil berkulit kuning langsat. Gadis Pantai disulap oleh Simbok menjadi perempuan cantik yang gilang gemilang, tidak lagi berjemur di pinggiran laut menunggu bapaknya pulang dan menjemur ikan. Berat sekali awalnya bagi Gadis Pantai untuk tinggal dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di rumah Bendoro, ia harus akrab dengan tata krama yang tidak pernah ia praktikkan saat kecil di kampungnya, dimana laut adalah bumi dan rumahnya. Simbok lah yang mengajarkan tata krama itu, membuatnya pantas menjadi istri priayi. Gadis Pantai diajarkan bendoro cara sholat, membaca Al-Qur'an. Bendoro bukan hanya administrator Belanda pada zamannya, tapi juga seorang Ulama yang kerap berdakwah mensyiarkan agama islam. 
"Lantas milik perempuan itu sendiri apa?". Tanya Gadis Pantai
"Tidak ada, Mas Nganten. Dia sendiri hak milik lelaki". Petuah Simbok. 
Gadis Pantai menjadi burung dalam sangkar emas, trisna jalaran saka kulina kalau pepatah Jawa mengatakan, Gadis Pantai akhirnya jatuh cinta pada Bendoro, layaknya perempuan lain yang jatuh cinta, Gadis Pantai pun mulai merasakan cemburu dan gelisah jika Bendoro tidak pulang ke rumah. Simbok sering mengingatkan Gadis Pantai untuk tidak berharap lebih, karena Simbok tau, pada waktu yang telah lalu, Bendoro hanya butuh menikah dan memiliki anak, tanpa ada welas asih atau perhatian kepada istri-istrinya. Setelah hasratnya tercapai, perempuan-perempuan itu akan diceraikan tanpa sebab. Simbok menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang buruk tentang tuannya. Meskipun Simbok tau, kelak Mas Nganten akan mengalaminya. 
Suatu ketika terjadi perdebatan antara Gadis Pantai dengan pelayannya, Mardinah. Kali ini bukan lagi Simbok, sebab Simbok telah diusir karena mengungkap kebenaran bahwa putra Bendoro mencuri uang Mas Nganten, tidak hanya Simbok, tapi putra Bendoro yang terbukti mencuri uang juga diusir dari rumah, Mardinah mengatakan bahwa Bendoro status (sosial)nya masih perjaka. Gadis Pantai bingung, padahal agus-agus (panggilan putra Bendoro) tumbuh bersama dengan ibu yang berbeda, perdebatan sengitnya dengan Mardinah membuat Gadis Pantai tau, bahwa status Perjaka Bendoro dikarenakan Bendoro hanya menikah dengan istri-istri percobaan. Istri percobaan adalah perempuan yang dikawini dari kalangan rakjel alias rakyat jelata, status para bangsawan selama nikah dengan istri-istri percobaan itu adalah "perjaka" ga peduli anaknya sudah limolas atau berapa. Mereka dinyatakan sah sebagai suami ketika para bangsawan itu menikah dengan perempuan dari kalangan bangsawan juga 😒 sedih ga sih? 😭 Gadis Pantai mulai tumbang, betapa mudahnya bangsawan-bangsawan Jawa itu kawin-cerai, kawin-cerai dengan istri-istri percobaan.
Well, saya mengamini sejarah ini, karena Kartini, pada saat itu ibunya Ngasirah bukanlah dari kalangan bangsawan, sedangkan ayahnya Sosroningrat dari kalangan bangsawan, peraturan saat itu mengharuskan bupati beristrikan dengan keturunan bangsawan, maka RM Sosroningrat menikah dengan keturunan bangsawan bernama RA. Moerjam yang merupakan keturunan Raja Madura. Jadi urusan nikah sesama bangsawan ini ngerepoti hajat hidup orang banyak, gaes.. 
Gadis Pantai mengandung buah cintanya dengan Bendoro, berharap kelak anaknya laki-laki dan kisah perceraian dengan istri bendoro yang dulu-dulu tidak dialaminya. Tapi takdir berkata lain, setelah Gadis Pantai melahirkan dan anaknya berumur 2 bulan, Gadis Pantai diceraikan tanpa sebab, juga dipisahkan dari anaknya. Setelah usahanya berkali-kali memohon kepada Bendoro untuk hidup bersama anaknya tak direstui Bendoro, pada akhirnya ia pasrah, terlalu malu kembali ke kampungnya, iapun pergi mencari simbok, pelayannya yang selalu mendongenginya kisah Nabi.
"kamu mesti belajar menangis buat dirimu sendiri. Tak perlu orang lain lihat atau dengarkan, kau mesti belajar menyukakan hati semua orang"
- Pramoedya -
Judul buku: Nicotine War (Perang Nikotin dan Pedagang Obat)
Pengarang: Wanda Hamilton
Penerjemah: Sigit Djatmiko
Genre: Nonfiksi
Penerbit: INSISTPress
Tebal Halaman: 137 Halaman
Tahun terbit: 2010
Di review oleh: Uswah
 
Rokok tidak hanya sekedar kampanye kesehatan tanpa nikotin ataupun sputar halal haram yang kerap difatwakan oleh sebagian ulama yang anti rokok, lebih dari itu rokok sangat erat hubungannya dengan petani, buruh, maupun produk kebanggan Indonesia. Kampanye antirokok perlu konsensus, bukan hanya dibilang haram atau merusak kesehatan, sebab jika tidak diwaspadai secara politis mudah ditunggangi kepentingan bisnis global yang akan mematikan industri rokok kita sendiri, memerangi rokok merupakan rekayasa perusahaan farmasi trans-nasional

Ada 3 fakta; 
1. Kampanye nikotin berdampak negatif bagi kesehatan adalah publikasi sesat yg dirancang industri farmasi berskala raksasa

2. Tiga industri farmasi “menyuap” USD 750,000 untuk mendukung kampanye WHO’s Nicotine Replacement Therapy, agar industri farmasi bebas memanfaatkan nikotin untuk obat-obatan rokok

3. Ujung dari perang besar terhadap tembakau ini, tak lain adalah menjual obat-obatan anti rokok berupa permen, koyo, obat tetes, tablet, inheler, dll

Selain itu, perang terhadap rokok dimulai dari setitik kebenaran bahwa rokok memiliki satu faktor resiko kanker paru-paru, yang kemudian dikembangkan untuk mengikis kredibilitas pemerintah dan men-subversi rule of law. Ilmu sampah menggantikan ilmu pengetahuan yang jujur, propaganda diparadekan sebagai fakta. Ujungnya, strategi antitembakau mengubah pola pikir masyarakat dunia, bahwa merokok yg sebnarnya merupakan "kebiasaan" - habitualing - menjadi "ketagihan" - addicting - yang buruk. Artinya, secara terapis hal itu harus ditangani.

Pelarangan merokok akan berdampak pada pergeseran nilai budaya yg sdh tertanam sjk abad ke-16 di masa Rara Mendut, bahkan jauh sebelum itu.

Terakhir: persoalan rokok didudukkan secara hati-hati, adil, proporsional dan mendasarkan pada basis data yang benar-benar valid
Mojokerto, 30 Desember 2017

Sabtu, 13 April 2019

Judul Buku: Nasehat bagi Lelaki (dalam Memahami dalil-dalil hukum merokok)
Pengarang: Ibnu Harjo
Penerbit: -
Tahun Terbit: 2014
Genre: Nonfiksi
Jumlah Halaman: 29 Hal

Pereview: Uswah

Judul aslinya adalah Tanbihul Ikhwan ala Tafahum Adillati Hukm al-Dukhan, Nasehat bagi Lelaki dalam memahami dalil-dalil hukum merokok.

Buku ini memang judulnya sama dengan kitab karangan Simbah Kyai Ahmad Bakri As-Sampuri (Mama Sampur) dari Purwakarta, yang mengkritik Ulama-Ulama pembaharu Islam yang mengatakan bahwa ijtihad masih dibuka selebar-lebarnya. Widiiih ngeri ya bahasannya kalau membahas ulama-ulama yang kredibel, yang jidal (bantahan) dan diskusinya bukan dengan marah-marah, tapi dengan saling berbalas menulis buku. jadi inget sama Imam Al-Ghazali dan Ibn Rusyd yang perbedaan corak pemikirannya dituangkan dengan saling membuat buku, Al-Ghazali mengkritik para filosof dengan membuat buku Tahafut Al-Falasifah, lalu buku tersebut dibantah oleh Ibn Rusyd dengan membuat buku dengan judul Tahafut al-Tahafut.

Eitsss tapi buku ini gak sehoror kitab kembarannya, heuheu.. Ini buku santai kaya di pantai, dikemas dengan begitu ringan dan tipiss karena memang awalnya buku ini jadi muqoddimah buku karangan Ibnu Harjo sendiri yang berjudul "Nuzhah al-Afham", tetapi berhubung buku Nuzhah sudah terlanjur dicetak jadi si muqoddimah ini terpisah dari empunya dan berdirilah sendiri dengan nama "Tanbih al-Ikhwan", langsung saja pada poinnya, membahas rokok yang sudah jadi budaya lebih khusus budaya orang pesantren (yang sudah senior 😛), kalau di kalangan Pesantren memang sudah masyhur yang namanya Kitab Irsyad al-Ikhwan, Karya Mbah Yai Ihsan Jampes, kitab yang membahas tentang kopi dan rokok, tapi yang bahas udah banyak banget, dan sudah ada yang menerjemahkannya, jadi saya review yang belum ada perivewnya aja, buku ini saya dapatkan langsung dari pengarangnya, jadi ntar tanya dulu boleh ga saya kasih link download kitabnya hahaa..

Oh ya, ini penampakan bukunya ya



Btw, dari review buku rokok pertama sampai ketiga kenapa bukunya pdf-an semua yak :p terkesan ga modal gitu :p baeklah, gosah protes ini aku udah prin bukunya


Udah puas kaaan? Lagi-lagi buku ini adalah lanjutan dari review kemarin, jadi buku yang saya review 3 bulan terakhir ini semacam 'Trilogi Rokok', pengkajian rokok dalam 3 poros, yang pertama rokok dalam perspektif politik  "Nicotine War", kedua rokok dalam perspektif gender "Perempuan Berbicara Kretek", yang terakhir adalah rokok dalam perspektif Fiqh "Tanbihul Ikhwan".

Tidak bisa dipungkiri bahwa rokok adalah kebiasaan sekelompok orang sejak zaman dulu, kebiasaan merokok ini merupakan bagian dari kebudayaan, sedangkan rokok tidak ditemukan dalam Al-Qur'an, Hadits, juga tidak ada pada zaman sahabat dan tabi'in, maka dari itu para Ulama 4 Madzhab berbeda dalam mengijtihadi (menggali hukum) rokok, rokok disini dibahasakan dengan "dukhon" dalam bahasa arab artinya adalah asap. Ada ulama yang mengatakan haram, ada yang membolehkan (mubah), dan ada yang memberikan hukum makruh.

Perbedaan hukum semacam itu di kalangan ilmu pengetahuan islam sangatlah wajar, tidak lantas menjadi masing-masing dari mereka berbantah-bantahan, atau bahkan menyalah-nyalahkan fatwa-fatwa tersebut :)))) sebagaimana kaidah fiqh bahwa "ijtihad ulama satu tidak dapat dibatalkan oleh ijtihad ulama yang lain"

Saya jadi ingat dengan Habib Husein Ibn Syeikh Abu Bakar bin Salim, Ulama besar di Hadramaut, saking bencinya sama rokok, beliau membeli semua perkebunan tembakau lalu membakarnya, cucunya saat itu ada di Jakarta, dia merokok, saat ditanya mengapa kamu berbeda dengan kakekmu? Cucu Sang Habib dengan santai bilang "kakekku kan kaya raya, jadi dia bakar semua perkebunan tanaman rokok, kalau akan kan gak kaya, jadi bakarnya satu-satu aja".. Saya jadi mikir, apakah perokok itu bisa mencerdaskan IQ atau justru perokok bisa bikin orang pinter ngeles 😂

Ada 93 kitab baik yang dicetak ataupun yang hanya berupa manuskrip-manuskrip karangan ulama nusantara yang dipakai referensi muallif (penulis).
Buku ini menyajikan beberapa hukum yang diambil oleh Para Ulama dengan begitu gamblang, disertai dengan diskusi-diskusi seputar hukum yang dipaparkan.

Mojokerto, 6 Maret 2018
Judul Buku: Perempuan Berbicara Kretek
Pengarang: Abmi Handayani, dkk
Penerbit: Indonesia Berdikari
Tahun Terbit: 2012
Genre: Nonfiksi
Jumlah Halaman: 320 (versi pdf)
Nama Pe-review: Uswah
Buku bisa di download di bukukretek.com/files/ju138g/perempuan-bicara-kretek.pdf

Kalau boleh saya bilang, buku ini semacam 'sequel' dari lanjutan review saya bulan lalu yang berjudul Nicotine War karya Wanda Hamilton, namun pada review kali ini lebih spesifik mengangkat tema gender. Cover buku ini juga sangat eksotis, dengan batang sembilan senti diapit di antara jemari-jemari lentik. Masih dengan bahasan yang sama yakni rokok atau kretek, sebenarnya terdapat perbedaan mendasar antara rokok dan kretek, tapi di masyarakat kita mafhum dengan rokok adalah yang berbungkus putih dan  ada filter (rokok putih) sedangkan kretek adalah rokok tanpa filter. Agaknya kretek mengalami generalisasi makna menjadi rokok, baik itu filter atau tanpa filter.  

Buku  ini terdiri dari 4 bab: Bab pertama membahas tentang ritus keseharian, bab kedua membahas tentang perempuan di simpang stigma, ketiga dalam pusaran arus zaman dan keempat tentang kretek, budaya dan keindonesiaan.

Buku ini tidak hanya ditulis oleh Abmi Handayani, tapi juga ditulis rombongan, jadi ini nulis buku kayak mau umroh. Penulisnya banyak yang dari kalangan perempuan dan sebagian dari mereka perokok, membaca buku ini harus slowwww terutama buat mereka yang udah antipati sama rokok, kalau ada orang yang pertama kali disebutkan kata rokok udah batuk-batuk mending gak usah baca daripada makin alergi.

Disini, di Negara kita ini, benda mati pun punya jenis kelamin. Malam itu laki-laki, kopi itu laki-laki, rokok pun juga laki-laki. (Niken Wresthi),  lalu apa jadinya jika benda-benda mati tersebut diambil alih oleh seorang perempuan? Perempuan keluar malam? Perempuan ngopi? Dan, perempuan merokok?

Tentang ritus keseharian perokok, kita tahu sendiri kan bagaimana stigma yang diberikan oleh perokok-perokok? Boomingnya berbagai kerugian yang dihasilkan dari asap rokok? Dan saat kampanye-kampanye kesehatan diujarkan dengan penuh fasih tentang rokok. Padahal ketika kita bisa jujur membuka data dari BAPENAS (Badan Pembangunan Nasional) yang menyebutkan bahwa  setiap kali kendaraan mengeluarkan asap sekitar 1.000 unsur beracun mengotori udara. Di antara zat yang membahayakan itu adalah Karbon Monooksida (CO), timbal (Pb), NO dan Ozon (O3). Zat-zat berbahaya tersebut jika kita perinci dari sisi medis, dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis bagi manusia. Trus ntar kalau ada yang kena penyakit kanker, gangguan janin, perempuan mandul dan impoten yang disalahin cuma rokok? Hellaaw. Sekarang banyak orang berlomba-lomba cari uang di kota, sawah digeser jadi jalan raya, akibatnya permintaan kendaraan bermotor meningkat, lalu yang dianggap sebagai monster yang paling menyeramkan dalam kehidupan adalah rokok? Pemerintah bilang udah ada reboisasi di kota sebagai penyeimbang asap kendaraan yang bikin sesak naujubilah. Tapi nyatanya tidak ada yang bisa menekan laju perkembangan dealer yang menghasilkan 12 juta kendaraan lebih di tiap tahunnya.

Ada yang menarik pada bagian “rokok dan jilbab” di bab kedua, perempuan yang muslim tapi lepas jilbab aja udah dibully, lah ini perempuan pake jilbab sekaligus merokok. Ya ampun, ribet amat mau jadi perempuan, ganti kelamin pun dikatain. Ketika diadakan wawancara di beberapa orang tentang bagaimana pandangannya jika ada seorang perempuan berjilbab merokok? Sebagian menjawab tidak pantas, pasti perempuan nakal, dan yang paling ekstrim nyinyiran “lepas dulu jilbabnya baru merokok”, padahal kalau kita mau meninjau lebih jauh ya tidak ada hubungannya rokok dengan bobroknya moral, di buku ini juga mengulas tentang perempuan-perempuan pengkretek yang mereka ini bukan broken home, bukan perempuan dengan pergaulan bebas dan narkoba. Bahkan, di antara mereka ada yang memiliki prestasi dan karir yang baik juga ibu rumah tangga yang menjalankan kewajibannya dengan baik. Pernyataan seperti ini sama lucunya dengan orang yang bilang “lepas dulu celana dalamnya baru makan nasi goreng” :(

Jadi inget temen saya bilang melarang perokok laki-laki untuk berhenti merokok sama halnya melarang perempuan nggosip, yaelah kok kesel yah dengernya, meskipun bener juga. Melarang perempuan perokok untuk berhenti merokok apakah bernilai mustahil mutlak mengingat wanita selalu benar :P

Dari 5 bintang, saya kasih 4 bintang untuk buku ini.
Tulisan ini diterbitkan di perempuanmembaca.com
Review © 2013 | Powered by Blogger | Blogger Template by DesignCart.org